Biografi Imam Syafi’i Dari Lahir Hingga Wafatnya

biografi Imam Syafi’i ra

biografi Imam Syafi'iDalam dunia islam, yang tersiar luas adalah 4 mazhab. Mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, mazhab Hanbali. Ke 4 mazhab tersebut berbeda pada bidang furu’ (cabang). Tidak pada pokok hukum. Dengan contoh, dalam Al Qur’an disebutkan: “apabila kamu ber shalat, maka hendaklah menyapu kepala”.

Maka pendapat mereka (pendiri mazhab) berbeda pada batas kepala yang disapu. Ada yang berpendapat seluruh kepala harus disapu dengan air. Jika menurut paham (ijtihat) imam Syafi’i mencukupilah walau pun sehelai rambut yang termasuk dalam batas kepala.Selain dari 4  mazhab di atas ada juga mazhab yang kurang berkembang seperti mazhab Dawud Dhahiri.

 

Nasab Biografi Imam Syafi’i

Al Imam Asy-Syafi’i adalah imam besar yang menciptakan mazhab yang dikenal dengan mahzab Syafi’i. Beliau lahir pada tahun 150 H (766 M) di Gazah. Bertepatan dengan tahun tersebut wafat Al Imam Abu Hanifah di Bagdad yang juga pendiri mazhab Hanafi.

Imam Syafi’i yang sebenarnya bernama Muhammad bernasab anak Idris, anak Abbas, anak Usman, anak Syafi’i, anak Saib, anak Ubaid, anak Abdul Yazid, anak Hisyam, anak Muttalib, anak Abdul Manaf, anak Qushai. Kemudian biasa dikenal dengan nama Asy-Syafi’i yang diambil dari neneknya yang bernama Syafi’i.

Pertemuan nasab keturunan dengan Rasulullah SAW adalah pada Abdul Manaf, anak Qushai. Ibu dari imam Syafi’i adalah Fatimah, anak Ubaidillah, anak Hasan (cucu Rasulullah SAW), anak Ali, anak Abu Talib. Maka jika dilihat dari keturunan dari bapak dan ibu imam Syafi’i merupakan keturunan suku Quraisy.

Ayah beliau untuk mencari penghidupan datang dari Gazah. Lantas ayah beliau meninggal selang tidak begitu lama setelah lahirnya Asy Syafi’i. Dalam kemiskinan tinggalah beliau dalam pemeliharaan ibunda nya.

Lalu oleh ibunya dibawalah Syafi’i ke Askalan yang tidak begitu jauh dari Gazah. Setelah berumur 2 tahun beliau dibawa menuju Mekkah oleh ibunya. Ibunya (Fatimah) takut anaknya tersia-sia, terus tinggal di perantauan. Jauh dari keluarganya dan sukunya Quraisy.

 

Pendidikan Biografi Imam Syafi’i

Muhammad bin Idris Asy Syafi’i di Makkah hidup dalam kemiskinan. Beliau sering bergaul dengan sesama anak anak. Sejak kecil imam Syafi’i terlihat cerdik dan segera dapat menghafal apa yang didengarkan dari teman temannya.

Pada umur 7 tahun beliau belajar membaca Al Qur’an kepada Syaikh Ismail bin Kustantin, yang merupakan seorang ahli baca Al Qur’an yang terkenal di Makkah pada masa itu. Pada usia 9 tahun imam Syafi’i sudah menghafal Al Qur’an dengan baik beserta menguasai artinya.

Remaja Muhammad bin Idris Asy Syafi’i selalu berada di Masjidil Haram sembari duduk duduk di samping para ulama. Beliau menghafal hadits dan ilmu yang didengarnya dari mereka.

Ketika berusia 12 tahun, beliau mulai memiliki hasrat ingin pergi ke Madinah untuk belajar kepada Al Imam Malik bin Anas yang merupakan pendiri Mazhab Maliki. Untuk itu beliau imam Syafi’i telah memiliki modal dengan menghafal kitab Al Muwatha’ karangan imam Malik.

Mengenai hal tersebut imam Syafi’i pernah berkata: “Saya telah hafal Al Muwatha’, sebelum saya datang kepada Al Imam Malik. Ketika itu, umur saya 12 tahun. Untuk saya bacakan kepada beliau (Imam Malik). Beliau memandang saya masih kecil, maka beliau berkata kepada saya: “Akan saya cari orang yang akan membacakannya bagimu.”

Sewaktu beliau berusia 13 tahun, terjadilah suatu peristiwa yang istimewa di Masjidil Haram Makkah yang tidak dapat dilupakan. Kejadian itu adalah ketika belia membaca Al Qur’an semua pendengarnya mendengar dengan khusyuk dan penuh keharuan sampai sampai mereka menangis.

Kemudian, mereka selalu mengatakan: “Apabila kamu ingin menangis, maka kami mengatakan kepada sesama kami: “Marilah kita datang kepada pemuda Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, yang akan membaca Al Qur’an !” Apabila kami datang kepadanya, lalu ia mulai membaca Al Qur’an. Sehingga berjatuhan di hadapannya, dari kerasnya menangis. Apabila ia melihat demikian, lalu ia berhenti.” Sampai demikian, beliau memahami Al Qur’an dan sedemikian jauh berkesan kepada para pendengarnya.

 

Keilmuan Dari Biografi Imam Syafi’i

Pada masa Imam Syafi’i belajar pada Imam Malik sering diminta membantu membacakan kitab Al Muwatha’ kepada murid murid yang lain (pun karena Imam Syafi’i sendiri sudah hafal kitab Al muwatha’). Dari hal tersebut imam Syafi’i sangat terkenal di kalangan masyarakat kota Madinah.

Hampir 10 tahun Muhammad bin Idris Asy Syafi’i belajar pada Imam Malik. Imam Syafi’i belajar dengan tekun dan dalam suasana tenang yang jauh dari hiruk pikuk. Imam Malik memegang Asy Syafi’i ketika keluar dari masjid Madinah karena usianya yang telah lanjut. Oleh karena itu Imam Syafi’i dinamakan: Tongkat Malik.

Al Imam Asy Syafi’i sedemikian bangga dengan gurunya Imam Malik. Sehingga beliau mengatakan: “Apabila disebutkan ulama, maka Malik itu bintangnya yang gemerlapan.” Dan: “Tidak ada kitab di bumi tentang fiqih dan ilmu yang lebih banyak kebetulannya dari kitab Malik.” Dan: “Kalau tidak adalah Malik dan Ibnu ‘Uyainah, niscaya hilanglah ilmu negeri Hijaz.”

Imam Syafi’i sangat mengutamakan ilmu pengetahuan dan disiplin. Beliau membagi malam menjadi 3 bagian. Sepertiga untuk menulis ilmu pengetahuan. Sepertiga untuk shalat dan ibadah. Sepertiga lainnya untuk istirahat dan tidur.

 

Biografi Imam Syafi’i Di Yaman Dan Irak

Setelah Imam Malik Wafat Imam Syafi’i menjadi harapan kaum Quraisy. Maka kaum Quraisy sepakatlah agar gubernur Yaman  untuk datang di Madinah dan sebagian yang lain mengatakan supaya Muhammad bin Idris Asy Syafi’i untuk diajak bekerja ke Yaman. Maka berangkatlah ke Yaman gubernur tersebut dan Imam Syafi’i.

Di Najran Yaman, gubernur menugaskan berbagai macam tugas kepada Imam Syafi’i dan dilaksanakan dengan sukses. Lantas orang orang banyak memuji belia atas kecakapannya. Di yaman beliau Imam Syafi’i menambahkan ilmu pada Muthraf bin Mazin Ash Shan’ani, Amr bin Abi Maslamah, Yahya bin Hasan dan Hisyam bin Yusuf qadli (hakim) shan’a.

Tahun 198 H Imam Syafi’i berangkat ke Irak. Di Bagdad ( ibu kota Irak) atas perintah Khalifah Abbasiyah Harunurrasyid. Salah seorang panglima perang di Yaman menulis kepada Harunurrasyid agar Asy Syafi’i ditarik ke pusat. Dia dapat berbuat dengan lidahnya, apa yang tidak dapat diperbuat oleh seorang prajurit dengan pedangnya.

Imam Syafi’i di Bagdad mengeluarkan fatwa fatwa di Bagdad yang dinamakan: Qaul Qodim (perkataan lama) dan Qaul Jadid yang nanti setelah berpindah di Mesir (perkataan baru).

 

Keluarga Imam Syafi’i

Imam Syafi’i menikah dengan Hamidah cucu Usman bin ‘Affan. Lantas mempunyai seoran anak laki laki bernama Muhammad. Dan mempunyai 2 orang anak perempuan yang dinamakan Zainab dan Fatimah. Pada akhir hayatnya beliau mempunyai lagi seorang anak laki laki yang meninggal sewaktu kecil yang bernama Abdul Hasan.

 

Biografi Imam Syafi’i Di Mesir

Imam Syafi’i tinggal di Bagdad selama 2 tahun. Kemudian ke Makkah lalu kembali lagii ke Bagdad (198 H) dan menetap hanya beberapa bulan saja. Pada tahun 199 H beliau berangkat ke Mesir pada usia mendekati usia  50 tahun.

Kedatangan beliau di Mesir disambut gembira oleh para ulama dan rakyat Mesir karena sangat memerlukan pengetahuan Imam Syafi’i dalam memahami agama dinul islam. Beliau menetap di Mesir mendekati 5 tahun, sehingga akhir bulan Rajab tahun 204 H.

 

Wafatnya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i wafat pada usia 54 tahun dan dimakamkan dalam lingkungan masjidnya di Qarafah Mesir. Beliau dimakamkan pada hari Jum’at, sesudah shalat ‘Ashar tanggal 29 Rajab 204 H.

Setelah Imam Syafi’i wafat maka keluarganya pergi kepada gubernur (wali negeri Mesir) untuk menyampaikan wasiat beliau. Wasiat Imam Syafi’i adalah supaya beliau dimandikan gubernur. Lantas gubernur tersebut bertanya: “Adakah Al Imam meninggalkan hutang?” mereka menjawab: “Ada.” Lalu gubernur membayar seluruhnya seraya berkata: “Inilah artinya aku memandikannya !.”

 

Karangan Karya Karya Imam Syafi’i

Karya karangan Imam Syafi’i ra sangat banyak. Menurut Al Imam Abu Muhammad Al Hasan bin Muhammad Al Marwasiy, Imam Syafi’i menyusun sebanyak 113 kitab, tentang tafsir, hadits, liqh, kesusasteraan Arab dan orang pertama yang menyusun ilmu Ushul Fiqh. Dan salah satu karya beliau kitab Al Umm (kitab induk) yang fenomenal.

]imam Syafi’i menjadikan pokok dalam memahami hukum dengan Al Qur’an dan A sunnah. Jika terjadi suatu peristiwa yang tidak ada dalil dari ke duanya maka beliau menggunkan qias (analogi) kepada yang dua itu. Jikalau tidak ada qias, maka beliau menggunkan ijma’ (kesepakatan ulama) dari pendapat seorang saja.

 

Kedekatan Biografi Imam Syafi’i Imam Malik Dan Imam Hanbali

Di antara murid Imam Syafi’i yang amat terkenal adalah Ahmad bin Hanbal yang merupakan pendiri mazhab Hanbali. Ahmad bin Hanbal datang ke Makkah pada tahun 187 H dan belajar kepada Imam Syafi’i. Belajar kepada Imam Syafi’i beliau memperoleh ilmu Al Qur’an, As sunnah, ilmu bahasa, sampai tanda tanda keberanian yang menjadi sifat imam imam terkemuka.

Dengan demikian, Imam syafi’i mempunyai hubungan yang erat dengan Imam Malik pendiri mazhab Maliki yang sebagai gurunya dan dengan Imam Ahmad bin Hanbal pendiri mazhab Hanbali yang sebagai muridnya.

Mazhab Syafi’i berkempang di Hijaz, India, Kaukasus, Kurdistan, Arminia, Utara Afrika dan Timurnya, sampai Tanzania. Sampai ke Andalus yang sekarang adalah Spanyol dari abad ke 4 H, sehingga agama Islam hilang di bumi Spanyol setelah Katolik menguasai. Berkembang di Cylon (srilangka), Malaysia, Muangthai (Thailand), Indocina, Pilipina, dan tentu saja Indonesia.

 

 

Hafidz Yusuf

 

Referensi biografi Imam Syafi’i:

Kitab Al Umm Imam Syafi’i (terjemah Prof. TK. H. Ismail Yakub SH-MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: