Kenapa Harus Hadist? Tidak Cukupkah Al-Qur’an? No ratings yet.

al quran-dan-hadist

Kajian Ilmi

Hadist adalah Penjelas Al-Qur’an

Prinsip dasar islam, sesuai dalam Kitab Al-Umm karya Imam As-Syafii, imam nya para ulama, peletak dasar yang sistematis tentang ilmu Ushul Fiqih islam. Beliau menyampaikan bahwa

“Ittiba’ adalah: Tindakan mengikuti Kitabullah. Kalau tidak ada dalam kitabullah, maka mengikuti sunnah (hadist). Kalau tidak ada dalam sunnah, maka mengikuti pendapat umum dari kalangan terdahulu (salaf> sahabat, tabi’in, tabiut tabiin dan ulama yang sholih) yang tidak ditemukan penentang terhadap pendapatnya. Kalau tidak ada juga, maka mengikuti qiyas sesuai pendapat umum dari kalangan terdahulu (salaf) yang kita tidak ketahui adanya penentang baginya” (Imam Syafi’i. Al-Umm, terjemah bahasa Indonesia. Jakarta : Republika Penerbit : 2016, Hal : 345)

Agama ini telah disempurnakan oleh allah Subhanahuwata’ala sejak diturunkannya kepada nabi Adam hingga nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam. Ada begitu banyak penyempurnaan dan hingga rosul diturunkan di Makkah, begitulah Al-Qur’an, petunjuk umat manusia turun pertama kali. Al-Qur’an diturunkkan kepada nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam satu paket dengan kepribadian beliau. Maka, rasul pun dikenal oleh para sahabat sebagai “Al-Quran Hidup”. Karena setiap perintah yang turun, rasulullah lah yang pertama kali melaksanakan dan taat pada perintah Allah Subhanahu Wata’ala. Maka Allah menurunkan wahyu berkaitan dengan sunnah nabi ini dalam Al-Qur’an:

  1. QS (59): Al-Hasyr ayat 7

Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya tinggalkanlah.

Karena perinttah ini umum, maka segala yang dilarang nabi harus dijauhi, baik yang termaktub dalam teks al-qur’an maupun yang tidak. Apakah ada hal yang dilarang nabi yang tidak ada teksnya didalam Al-Qur’an? Jawabannya: Ada.

Contohnya adalah : Tidak boleh anak menantu menikahi ibu mertua meskipun sudah tidak menjadi mertua. Ini tidak ada dalam Al Qur’an teks nya. Atau, waktu-waktu larangan sholat pada tengah hari, sore saat matahari mulai tenggelam dan pagi sebelum matahari terlihat sempurna. Ini tidak ada dalam Al-Quran, tapi dalam Hadist Shohih ada.

Dari Abbas bin Rabi’ah, ia berkata : “saya pernah melihat Umar bin Khattab ra mencium Hajar Aswad, seraya berkata: “aku tahu engkau adalah batu, engkau tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula membahayakan. Seandainya aku tidak pernah melihat rasulullah Salallahu alaihi wasallam menciummu, tentu akupun tidak menciummu (HR. Bukhori-Muslim)

 

 

  1. QS: An-Najm ayat 3-4

Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.

Ini sangat terlihat pada peristiwa Hudaibiyah, beliau mendapat tekanan yang luar biasa dari pihak musuh maupun lawan, tapi beliau tetap memutuskan perjanjian yang menurut para sahabat, isi 4 perjanjian hudaibiyah itu merugikan umat muslim. Tapi rasulullah meyakinkan: “aku adalah hamba Allah dan Rasulnya, aku takkan menyelisihi perintah-Nya. Dia (Allah) pun takkan menyianyiakan aku”. (Siroh Nabawiyah Safiyurahman Al Mubarakfuri, Rahiq Al-Maktum)

 

  1. QS: Ali-Imran ayat 31

Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu

Maka, salah satu sifat seorang nabi, harus diikuti oleh pengikutnya/ kaumnya. Tidak dikatakan sahabat dan pengikut nabi, jika mereka seperti sifatnya bani Israel kepada Musa Alaihi Salam, dimana kaumnya nabi musa tidak mau  tunduk pada perintah nabi dalam banyak kesempatan (lihat QS Al-Baqarah, sangat jelas tabiat bani Israel)

 

  1. QS: An-Nisa’ ayat 65

Maka demi tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Silahkan dibuka kitab tafsir, saya membuka terjemahan Tafsir Ibnu Katsir (hal: 281) juz 5, terbitan Sinar Baru Algesindo. Disana diterangkan, bahwa ayat ini, asbabun nuzul nya karena salah satu sahabat nabi, bernama Az Zubair bersengketa dengan salah seorang sahabat Anshar tentang pengairan kebunnya. Zubair melaporkan pada Rosulullah, tentang kejadian itu dan diputuskan oleh rasulullah :

Maka, para sahabat adalah orang yang paling setia kepada Nabi, karena mereka mengembalikan segala permasalahan kepada nabi. Maka, bukankah kita seharusnya mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah dan Rosulnya?

 

Terkait pertanyaan  kenapa dalam hal peribadatan gak menyukupkan satu saja biar seragam jadi satu. Dalam satu waktu, rasul pernah melakukan seperti ini, tapi diwaktu lain rasul seperti itu. Seperti posisi bersedekap pada sholat, ada 6 versi yang diakui menurut ahlu sunnah dan berdasarkan dalil yang dapat dijadikan hujjah. Jadi, mana yang benar? Semua sunnah itu benar, sedang yang paling kuat adalah kembali kepada seseorang yang mengikuti salah satunya. Maka, bukan satu atau lima yang menjadi masalah dalam peribadatan, tapi “Ada dalilnya atau tidak dalam melakukan ibadah tersebut” karena syarat diterima amalnya seseorang itu ada dua,

  1. Ikhlas beramal karena allah ta’ala tanpa mencampur dengan sesembahan lain
  2. Ittiba’ (meniru nabi) Rosulullah Muhammad Salallahu alaihi wasallam

Jadi, tidak menjadi soal, apakah berkumur itu hanya cukup berkumur atau menggunakan siwak? Apakah membasuh telapak tangan itu harus digosok atau cukup dialiri saja? Atau tafsir membasuh kepala, apakah wajib seluruhnya harus terkena ataupun cukup 3 helai seperti pendapat imam syafi’i? Selama seluruh pendapat itu memiliki dasar, maka kita diperbolehkan memilih salah satunya sesuai apa yang diyakini. Namun diharamkan memilih yang teringan sehingga kita dapat terjerumus pada mempermainkan agama allah dengan memperingan segala sesuatu.

 

            Dalam hal pertanyaan antum, berarti Al-Quran perlu penjelas? Sekarang izinkan ana bertanya, silahkan baca Al-Quran Surat Al-Maidah (5) ayat 5.

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.”

Pertanyaan tentang itu,

  1. Apakah hukum memakan harimau? Apakah ada dalilnya di al qur’an?
  2. Haramkah memakan kukang? Apakah ada dalilnya di al qur’an?
  3. Jika haram mengundi nasib dengan anak panah, berarti boleh mengundi nasib dengan kartu ataupun dengan melihat bintang-bintang (ahli perbintangan, seperti aries, scorpion dll) dimana bisa ditemukan dalam alqur’an?

Maka, dari dalil2 diatas. Tidak ada pilihan lain bagi kita, dalam melaksanakan ibadah, yaitu harus berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist nabi. Jika tidak ditemukan, maka ijma’ sahabat dan ulama. Ika tidak bisa ditemukan lagi, maka qiyas, seperti penjelasan imam syafii diatas.

 

 

by: Bayu Azzuhud

Buku Rujukan:

  1. Kitabullah- Al Qur’an
  2. Tafsir Ibnu Katsir, Juz 5 hal. 281, Sinar Baru Algesindo.
  3. Imam Nawawi. Riyadus Shalihin.2013.hal. 151-160.Jakarta : Pustaka Amani
  4. Imam Syafi’I. Al-Umm-Kitab Induk Fiqh Islam-Jilid 1. 2016. hal.345. Jakarta: Republika Penerbit.

Seberapa Bagus Artikel Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: