Kisah Nabi Dan Rosul Termasyhur

Kisah Nabi Dan Rosul Termasyhur

kisah-nabi

Kisah Nabi Dari Kitab Al Bidayah wa An-Nihayah karya imam Syafi’i. Banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an, hadist Roshulullah SAW, kitab terdahulu, dan atsar-atsar para ulama. Dimulai dari Allah Subhanahu wa Ta ala mengabarkan kepada para malaikat dengan berbicara langsung kepada mereka untuk menarik perhatian mereka bahwa Dia akan menciptakan Adam dan keturunannya.

Kisah Nabi Adam AS

 

kisah nabi adam as

“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” (Qs. Al Baqarah [2]: 30)

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. “(Qs. Al Baqarah [2]: 30)

 

Adapun yang dimaksud dari hikmah yang tidak diketahui itu adalah, di antara mereka akan ada para nabi, para rasul, orang-orang jujur, dan para syuhada.

 

Nabi Adam AS memiliki 4 macam kehormatan

Pertama. Dia diciptakan langsung dengan tangan Allah yang mulia.

Kedua. Ditiupkan kepadanya roh-Nya.

Ketiga-. Perintah Allah kepada para malaikat untuk sujud kepadanya.

Keempat: Adam diajari berbagai nama benda.

 

Iblis melihat dirinya dengan cara membandingkan dirinya dengan Adam. Ia berpendapat bahwa dirinya lebih mulia daripada Adam.

kisah-nabi-adam-as

“Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

(Qs. Al A’raaf [7]: 12)

 

Dari Ibnu Abbas dan ulama yang lainnya, mereka berkata, “Iblis dikeluarkan dari surga dan Adam dimasukkan ke dalam surga. tanpa ada pasangan yang menjadikannya tenang karenanya. Ia tidur sebentar, lalu bangun. Ternyata di arah kepalanya ada seorang wanita sedang duduk.

 

Wanita itu diciptakan oleh Allah dari tulang rusuknya. Ia pun bertanya kepada wanita itu, ‘Siapa engkau?’ Ia menjawab, ‘Aku seorang wanita’. Adam berkata, ‘Kenapa engkau diciptakan?’ Ia menjawab, ‘Agar engkau tenang karenaku’.

 

Para malaikat setelah mengetahui pengetahuan Adam yang banyak, mereka berkata kepadanya, ‘Siapa namanya, wahai Adam?’ Adam menjawab, ‘Namanya Hawa’ Mereka bertanya, ‘Mengapa diberi nama Hawa?’ Adam menjawab, ‘Karena dirinya diciptakan dari sesuatu yang hidup’.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta. Maka manusia pun terus berkurang (tingginya) hingga sekarang. “(HR. Ahmad).

 

 

Kisah Nabi Nuh AS

 

Kisah Nabi Nuh Alaihissalam diutus karena berhala-berhala dan thaghut-thaghut menjadi sesembahan. Manusia berada dalam kesesatan dan kekafiran. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi para hamba-Nya. Dia adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi.

 

(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa \ yaghuts, ya ‘uq, dan nasr’.

(Qs. Nuh [71]: 23)

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nama-nama itu adalah nama orangorang shalih dari kalangan kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, syetan memberikan intuisi kepada kaumnya agar berkumpul di majelis-majelis tempat para ulama itu sering mengadakan perkumpulan dengan memasang berhalaberhala berupa gambar mereka.

 

Mereka menamakan berhala-berhala itu dengan nama orang-orang shalih tersebut. Mereka lakukan hal itu, tetapi mereka tidak melakukan penyembahan kepada berhala-berhala yang telah mereka pasang, melainkan setelah mereka meninggal dunia. Ilmu mereka lenyap dan mereka disembah.

 

Mereka bersikap memusuhi Nuh, menganggapnya sepele, dan mengancam para pengikut Nuh dengan pengusiran serta siksaan yang luar biasa. Sepanjang zaman kisah nabi Nuh terus terjadi permusuhan dengan kaumnya, sebagaimana difirmankan oleh Allah,

 

“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orangorang yang zhalim.

(Qs. Al Ankabuut [29]: 14)

 

Dalam masa Kisah Nabi Nuh AS yang sangat panjang sangat sedikit yang beriman.

Setiap generasi mulai punah, mereka memberikan wasiat kepada generasi berikutnya untuk tidak beriman kepada Nuh agar terus menyerang dan memusuhinya. Tabiat mereka adalah enggan beriman dan mengikuti yang haq. Nabi Nuh lalu berdoa untuk kebinasaan mereka, dan Allah menerima dengan baik doanya.

 

Ketika itu Allah memerintahkan Nuh agar membuat bahtera yang memiliki tiga tingkat. Setiap tingkat berukuran 10 hasta. Tingkat paling bawah untuk binatang-binatang, tingkat tengah untuk manusia, dan tingkat paling atas untuk burung-burung.

 

Topan melanda seluruh hamparan bumi. Nuh memanggil-manggil anak-anaknya, sebagaimana firman Allah,

“Dan Nuh memanggil anaknya. “(Qs. Huud [11]: 42)

 

Anak-anak Nuh yang dimaksud itu adalah Yam, saudaranya Saam, Haam, dan Yafits. Mereka semua kafir dan mati bersama mereka yang mati. Dari kisah nabi tersebut  penduduk bumi telah dibinasakan dengan tidak menyisakan siapa pun, selain dari para penyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah memerintahkan bumi agar menelan seluruh air di atasnya dan memerintahkan kepada langit agar hujan dihentikan.

 

Ada 80 orang beserta keluarganya yang bersama Nuh di bahtera. Ketika mereka turun ke kaki Bukit AlJuudiy, dibangunlah sebuah pedesaan yang mereka namakan Tsamanin. Suatu hari lidah mereka mengucapkan bahasa yang bercampur-aduk, yang berjumlah 80 kelompok, diantaranya kelompok Arab. Setiap kelompok tidak memahami bahasa kelompok lain, sehingga Nuh Alaihissalam menjadi juru bahasa di antara mereka.

kisah-nabi-adam-as

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan

keturunan. “(Qs. Ash-Shaffaat [37]: 77)

 

Dari kisah nabi Adam Semua jenis keturunan yang berada di muka bumi sekarang ini bersambung secara keturunan kepada putra-putra Nuh yang berjumlah tiga orang, yaitu Saam, Haam, dan Yafits.

 

 

Kisah Nabi Ibrahim AS

 

Ketika Nabi Ibrahim AS dilahirkan, seluruh penghuni bumi dalam keadaan kafir, kecuali Ibrahim ‘sang kekasih’, Sarrah (istrinya), dan Luth Alaihimassalam (keponakannya).

 

Kisah Nabi Ibrahim diceritakan Allah adanya dialog dan perdebatan yang terjadi antara Ibrahim dengan ayahnya, dan bagaimana Ibrahim menyeru ayahnya dengan cara dan kiat yang paling lembut. Tetapi ayahnya justru mengancam dan menyumpahinya.

 

Ibrahim juga memberikan nasihat kepada bangsa Harran yang menyembah planet-planet, bahwa benda-benda langit yang terlihat tersebut hanyalah planet-planet yang bersinar terang, yang tidak layak untuk dijadikan sesembahan.

 

Ketika kaumnya pergi untuk menghadiri hari raya mereka, ibrahim pergi mendahului mereka menuju berhala-berhala dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia hancurkan berhala-berhala itu, lalu mengalungkan kampak yang ia pakai untuk menghancurkan ke leher patung yang terbesar,

 

Ketika mereka pulang dari perayaan dengan menemukan kejadian yang ada pada sesembahan mereka, mereka bertanya-tanya tentang orang yang melakukannya. Mereka lalu mendengar kabar tentang seorang pemuda bernama Ibrahim yang mencela sesembahan mereka. Mereka pun berkata ,

 

“… ‘(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang

banyak agar mereka menyaksikan’.’‘(Qs. Al Anbiyaa’ [21]: 61)

 

Ketika orang-orang berkumpul dengan membawa Ibrahim, mereka bertanya,

“… Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’.”

{Qs. Al Anbiyaa’ [21]-. 62)

 

Ibrahim menjawab,

“… ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara’. “(Qs. Al Anbiyaa [21]: 63)

 

Kaumnya itu pun bingung dan kehabisan alasan. Tidak ada lagi yang tinggal di benak mereka, selain penggunaan kekuatan dan kekerasan. Mereka lalu segera mengumpulkan kayu bakar di dalam sebuah lubang besar.

 

Ketika Ibrahim Alaihissalam diletakkan di tempat peluru pada ketapel dengan keadaan kedua tangannya diikat ke belakang punggungnya, lalu mereka melemparnya ke nyala api, ia berucap,

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

 

“Kami berfirman, ‘Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’. “(Qs. Al Anbiyaa [21]: 69)

Dengan demikian tidak ada sedikit pun yang terbakar pada diri Ibrahim, kecuali tali-tali yang dipakai untuk mengikat tangannya.

 

 

Kisah Nabi Yusuf AS

 

Dari kisah Nabi Yusuf AS Para ahli tafsir berkata, “Ketika Yusuf masih kecil, ia bermimpi seakanakan 12 buah bintang, matahari, dan bulan, bersujud kepada dirinya. Ketika ia terjaga dari tidurnya, ia ceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Ayahnya lalu memerintahkannya agar menyembunyikan cerita itu supaya mereka tidak iri kepadanya.

 

Ternyata mereka (saudara Yusuf) bermusyawarah, mereka pun sepakat dengan membuangnya. Yusuf dilemparkan ke dasar sebuah sumur. Mereka lalu pulang kepada ayah mereka pada malam hari dengan menangisi saudaranya yang terbunuh —menurut pengakuan mereka— dengan membawa pakaiannya yang telah dilumuri dengan darah anak kambing. Sang ayah pun menyerahkan perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala dan bersabar dengan kesabaran yang sangat baik.

 

Lewatlah sebuah kafilah dengan menyaksikan anak-anak yang mengawasi sumur. Ketika para musafir mengambil Yusuf ,Alaihissalam, mereka bertemu dengan saudara-saudaranya yang berkata, “Ini adalah budak kami yang melarikan diri dari kami, maka belilah dia dengan harga 20 dirham dengan pecahan 2 dirham 2 dirham.” Ia lalu dibeli oleh seorang Raja Mesir yang memperlakukannya dengan sangat baik, sebagaimana firman Allah,

 

Istri raja (Zulaikha) memanggil Yusuf untuk menundukkan dirinya kepadanya dengan sangat bernafsu. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah.” Allah pun memelihara Nabi Yusuf Alaihissallamdan menjauhkannya dari kekejian. Yusuf kemudian lari ke arah pintu, akan tetapi istri Al Aziz mendahului dan menghadangnya.

 

Keduanya dikejutkan karena mendapati Al Aziz telah berada di hadapan keduanya. Istri Al Aziz adalah wanita cerdas, maka ia segera angkat bicara kepada suaminya karena khawatir Yusuf berbuat sesuatu yang merugikan dirinya. Ia lalu mengusulkan agar Yusuf tidak dihukum mati, cukup dipenjara atau disiksa. Yusuf pun menolak berbagai tuduhan yang diarahkan kepada dirinya dengan berkata,

“… dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)’. “(Qs. Yuusuf [12]: 26)

 

Al Aziz kemudian melakukan pengecekan kepada baju Yusuf, dan mendapati bajunya robek di bagian belakang. Al Aziz pun mengetahui kebenarannya.

 

Para wanita di seantero Mesir juga ikut membicarakan berita tentang kejadian itu, hingga pembicaraan mereka sampai kepada Zulaikha. Zilaikha lalu mengundang mereka dan menyediakan buah-buahan serta memberi sebuah pisau kepada masing-masing wanita.

 

Setelah itu istri Al Aziz menyuruh Yusuf agar keluar ke arah para wanita itu. Para wanita itu pun dikejutkan dengan ketampanan Yusuf sehingga tidak menyadari bahwa mereka telah

melukai tangan mereka sendiri. Zulaikha lalu bertanya kepada mereka, “Apakah kalian telah melihatnya?”

 

Yusuf adalah seorang pria yang telah dikarunia ketampanan sehingga Zulaikha mengakui bahwa dirinya telah menggoda Yusuf dan Yusuf bebas dari berbagai tuduhan. Zulaikha sangat kuat keinginannya untuk mendapatkan Yusuf, sekalipun Yusuf enggan kepada istri Al Aziz, sehingga Zulaikha memerintahkan untuk memenjarakannya.

 

Para wanita yang hadir sepakat untuk membujuk Yusuf agar menuruti ajakan tuan putrinya, namun Yusuf tetap bersikukuh dengan pendiriannya, sehingga akhirnya Yusuf dipenjara, dalam rangka menyelamatkan dirinya dari ajakan dan bujuk-rayu Zulaikha.

 

Pada suatu malam sang raja terbangun dari tidurnya dengan sangat terkejut. Ia berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat 7 ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan aku melihat 7 bulir gandum yang hijau dan 7 bulir gandum yang kering. Jelaskan kepadaku arti mimpiku ini.”

 

Ternyata tak seorang pun ahli nujum, atau ahli sihir, atau para dajal pengikut Fir’aun, mampu mengartikan mimpi itu. Ketika itu muncullah kecerdasan pemuda pemberi minum dari kisah nabi Yusuf di penjara dengan berkata, “Utuslah kami kepada Yusuf” Sesampainya di penjara pemuda itu berkata, “Wahai Yusuf, tafsirkan untukku mimpi sang raja.”

 

Sang raja lalu meminta Yusuf agar mentakbirkan mimpinya, namun Yusuf tidak bersedia kecuali dirinya dinyatakan bebas dari segala tuduhan istri raja dan wanita lainnya. Peninjauan pun dilakukan, dan Yusuf akhirnya bebas. Sang raja lalu menyerahkan beberapa tugas kepada Yusuf.

 

Setelah 2 tahun masa sulit berlalu, saudara-saudara Yusuf datang kepadanya. lalu kembali kepada Yusuf untuk mendapatkan bahan makanan dan agar saudara mereka (Bunyamin) dikembalikan kepada mereka. Terbukalah pelipis Yusuf yang mulia, maka saudara-saudaranya mengetahui bahwa dia adalah Yusuf.

 

Akhir kisah Nabi Yusuf Dan Saudaranya

Mereka sangat gembira karena Yusuf adalah menteri yang mengatur bahan makanan. Mereka kembali kepada ayahnya dengan mendapatkan kekuatan baru. Bertemulah Yaqub dan Yusuf. Yusuf menyampaikan yang terjadi, dan benarlah takwil mimpi dahulu yang pernah diceritakan kepada ayahnya. Mereka semua bersama dengan kedua orang tuanya tinggal dengan Nabi Yusuf.

 

 

Kisah Nabi Musa AS

 

Dari kisah Nabi Musa AS Fir’aun di dalam tidurnya bermimpi tentang datangnya api dari arah Baitul Muqaddas, lalu membakar seluruh rumah di Mesir dan semua rumah milik bangsa Ojbthi, tetapi sama sekali tidak membahayakan bani Israil. Para dukun lalu menafsirkan mimpi itu, bahwa seorang anak yang dilahirkan di kalangan bani Israil akan menjadi penyebab hancurnya bangsa Mesir.

 

Fir’aun pun memerintahkan pasukannya untuk membunuh seluruh bayi laki-laki. Fir’aun memerintahkan untuk dilangsungkan pembunuhan anakanak dalam jangka setahun dan menghentikannya dalam jangka satu tahun pula. Harun dilahirkan pada tahun saat pembunuhan bayi laki-laki sedang dihentikan, sedangkan Musa dilahirkan pada tahun pembunuhan bayi lakilaki harus dijalankan.

 

Musa dilempar ke sungai Nil oleh ibunya. Ia kemudian ditemukan oleh para dayang ketika istri Fir’aun melihatnya, ia sangat mencintainya. Ketika Fir’aun tiba, ia langsung memerintahkan untuk membunuhnya, namun istrinya memintanya dari Fir’aun dan melindunginya dengan berkata,

 

“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. “(Qs. Al Qashash [28]: 9)

Fir’aun berkata, “Bagimu ia sangat baik, namun bagiku tidak.”

 

Suatu ketika ia melihat dua orang yang sedang bertengkar, yang satu dari bani Israil, sedangkan yang satu lagi dari bangsa Ojbthi. Orang Israil meminta pertolongan kepada Musa, maka Musa mendekati seorang Qibthi itu lalu meninjunya dengan kepalan tangannya hingga mati, padahal Musa hanya berniat memberinya peringatan keras. Musa pun menjadi merasa takut kepada Fir’aun dan pendukung-pendukungnya.

 

Musa pun pergi meninggalkan Mesir menuruti nasihat orang yang sayang kepadanya. Ia tidak tahu jalan, maka ia menelusuri jalan hingga sampai ke Madyan, kaum Nabi Syuaib ‘Alaihissalam. Ia melihat sebuah sumur dengan banyak orang yang berkerumun di sekitarnya untuk meminumkan kambing mereka. Ia juga menyaksikan dua orang gadis yang selalu berusaha mencegah kambing-kambingnya bercampur dengan kambing-kambing orang lain.

 

Para penggembala jika telah selesai meminumkan kambingkambingnya, meletakkan batu besar di mulut sumur itu. Datanglah dua gadis itu dan meminumkan kambing-kambingnya dengan air sisa dari kambingkambing orang lain. Ketika Musa datang, ia angkat sendiri batu besar penutup sumur dan meminumkan kambing-kambing dua gadis tersebut.

 

Amirul Mukminin Umar berkata, “Sebenarnya batu besar itu tidak mungkin terangkat kecuali oleh 10 orang.” Musa lalu mengambil satu ember air, dan ternyata telah cukup bagi kambing kedua gadis itu. Ia berpaling menuju naungan sebatang pohon, lalu berdoa,

 

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. “(Qs. Al Qashash [28]: 24)

Gadis itu berkata kepada Musa, “Sesungguhnya Bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” (Qs. Al Qashash [28]: 25)

 

Orang tua itu hendak menikahkan Musa dengan salah satu dari dua putrinya, dengan syarat ia harus bekerja sebagai penggembala kambing padanya selama 8 atau 10 tahun. Ketika masa kerjanya telah usai, Musa pergi dengan keluarganya menuju Mesir dengan membawa kambingkambingnya pada malam gelap-gulita dan dingin. Ia melihat api yang menyalanyala.

 

Ketika Musa menuju api itu, ia berhenti dengan penuh rasa heran. Ia diajak bicara oleh Rabbnya yang memerintahkannya agar pergi menuju Fir’aun. Musa meminta dukungan kepada Allah dengan saudaranya, Harun, dan Allah mengabulkan permintaan Musa dan menjadikan Harun sebagai rasul bersamanya.

 

Berlanjutlah kisah Nabi Musa AS

Fir’aun pun menantang Musa, maka Musa berkata kepadanya,

“… waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.

(Qs. Thaahaa [20]: 59)

 

Fir’aun mengumpulkan seluruh ahli sihirnya, para pejabat pemerintahannya, dan seluruh warga negerinya. “Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. “(Qs. Asy-Syu’araa [28]: 45)

 

Seketika itu para ahli sihir mengetahui bahwa yang dibawa Musa bukanlah sihir, maka mereka bersujud kepada Musa dan berkata, “… ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun’.” (Qs. Asy-Syu’araa [26] : 47-48)

 

Bani Israil lalu meminta izin kepada Fir’aun untuk keluar menuju hari raya mereka, dan Fir’aun memberikan izin kepada mereka. Pada malam hari mereka keluar dengan tujuan mencari negeri Syam. Ketika Fir’aun mengetahui perihal kepergian mereka, ia sangat marah kepada mereka.

 

Ia segera mengumpulkan seluruh tentaranya untuk melakukan pengejaran terhadap bani Israil dan membatalkan kepergian mereka. Mereka keluar dari Mesir dengan dipimpin oleh Musa Alaihissalam. Adapun mereka, masuk ke Mesir dipimpin oleh bapak Israil, yakni Ya’qub, lebih dari 400 tahun sebelum itu.

 

Mereka dikejar Fir’aun pada waktu matahari terbit. Kedua kelompok telah saling melihat, sebagaimana firman-Nya,

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikutpengikut

Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’. “(Qs. Asy-Syu’araax [26]: 61)

 

Rasul yang jujur itu berkata kepada mereka sebagaimana yang difirmankan Allah,

kisah-nabi-musa-as

“Musa menjawab, ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya

Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.”

(Qs. Asy-Syua’raa” [26]: 62)

 

Musa melihat ombak yang saling menghantam. Ia berkata, “Di sinilah aku diperintahkan.” Ketika itu saudara-saudaranya, yaitu Harun dan Yusa’ bin Nuun, bersama dengannya. Musa memukul laut dengan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dengan kehendak, kekuasaan, anugerah, dan rahmat Allah, laut terbelah menjadi dua.

 

Ketika bani Israil telah berhasil melampaui jalan laut itu, Musa hendak memukul laut dengan tongkamya agar kembali menjadi seperti sedia kala sehingga Fir’aun dan pasukannya tidak dapat melewatinya.

 

Akan tetapi perintah Allah wajib dilaksanakan, Dia memerintahkan Musa agar membiarkan laut tetap pada keadaan dan sifatnya semula, ketika ditinggalkan oleh Musa bersama kaumnya. Fir’aun dikejutkan oleh apa yang dilihatnya, dan ia yakin semua itu adalah perbuatan Rabb Yang Maha Agung.

 

Oleh karena itu, ia tahan kudanya dan tidak bergerak maju. Akan tetapi kesombongan telah membawanya kepada kebatilan. Dia dan pasukannya tetap hendak mengejar Musa dan para pengikutnya. Ketika itu dia berkata, “Lihatlah oleh kalian semua, bagaimana laut bisa terbelah untukku agar aku dapat menangkap para budakku yang melarikan diri dari sisiku.”

 

Dalam keadaan seperti itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa, lewat wahyu yang diberikan kepadanya, agar memukul laut dengan tongkatnya, sehingga laut menjadi satu kembali, sebagaimana semula, dan menghancurkan Fir’aun dan seluruh tentaranya.

 

 

Kisah Nabi Sulaiman

 

 kisah-nabi-sulaiman-as

kisah-nabi-sulaiman-as

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Berangkatlah seorang nabi di antara nabi-nabi Allah bersama banyak orang untuk memohon hujan dari Allah. Tak disangka mereka menemukan seekor semut sedang meninggikan tiang-tingnya ke langit. Nabi tersebut berkata, ‘Pulanglah kalian semua, doamu telah diterima karena semut ini’.”

 

Berkenaan dengan hubungan kisah nabi Sulaiman dengan Hudhud, pada suatu hari Sulaiman mencarinya dan tidak menemukan dirinya di tempat dia melakukan tugasnya. Ia lalu bertanya tentang keberadaab Hudhud dan mengancam akan menyembelihnya jika tidak segera datang dengan membawa alasan yang tepat.

 

Datanglah Hudhud dengan membawa berita untuk Nabi Allah tentang Balqis. Ia telah menyaksikan seorang wanita yang menjadi penguasa dan memiliki singgasana yang dihiasi dengan bermacam-macam permata. Sulaiman lalu mengiriminya surat berisi seruan dakwah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Ratu Balqis berkata, “Sungguh, jika raja ini menguasai kerajaan kita, tentu dia akan menguasaiku. Akan tetapi aku akan menipunya dengan hadiah yang aku kirim kepadanya.” “Bawa pulang hadiahmu, dan sungguh aku akan mengirim pasukan tentara yang takkan terbendung.” Ketika ancaman Nabi Sulaiman sampai kepada Balqis, tiada jalan bagi mereka selain tunduk dan menerima perintah degan penuh ketaatan.

 

dari golongan jin siap memindahkan singgasana Balqis sebelum tiba waktu Zhuhur. Sepupu Sulaiman yang bernama Asif bin Barkhaya berkata, “Jika engkau menatap sasaran terjauh dari tempatmu, lalu engkau menutupkan kelopak mata (mengedip), maka singgasana telah ada di hadapanmu.”

 

Ketika Sulaiman menyaksikan singgasana Balqis berada di hadapannya, ia bersyukur kepada Allah dan memerintahkan untuk mengubah sebagian dari ciri-ciri singgasana itu guna menguji kepahaman dan akal Balqis. Ketika Balqis ditanya, “Demikiankah singgasanamu?” Ia menjawab, “Sepertinya ini.” Demikianlah tingkat kecerdasan dan kepahaman Balqis.

 

Sulaiman lalu menikahi Balqis dan mengangkatnya menjadi Gubernur Yaman dengan mengembalikan dirinya ke negeri asalnya.

 

Ketika di akhir kisah nabi Sulaiman merasa ajalnya telah dekat, ia berkata, “Ya Allah, rahasiakan kematianku kepada jin, sehingga semua orang mengetahui bahwa jin tidak mengetahui yang gaib.” Ia bertopang kepada tongkatnya, lalu meninggal. Setelah berlalu satu tahun, jasad Sulaiman tersungkur di atas tanah karena tongkatnya dimakan rayap. Ketika itu barulah jin mengetahui bahwa Sulaiman telah meninggal.

 

 

Kisah Nabi Isa AS

 

Maryam berada di bawah asuhan Nabi Zakariyya Alaihissalam. Ia membuatkan sebuah mihrab untuk Maryam di Baitul Maqdis. Ketika tumbuh dewasa, ia sangat rajin beribadah. Malaikat lalu menyampaikan suatu berita gembira kepadanya, bahwa Allah memilihnya untuk dianugerahi seorang anak suci yang akan menjadi seorang nabi yang suci, mulia, dan didukung dengan berbagai mukjizat.

 

“Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

“(Qs. Maryam [19]: 17)

‘…untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”

(Qs. Maryam [19]: 19)

 

Jibril lalu meniupkan roh ke dalam kantong bajunya dan seketika itu Maryam mengandung. Maryam pun mengasingkan diri. Rasa sakit akan melahirkan membuat Maryam berlindung di bawah pohon kurma. Maryam menginginkan kematian karena ia mengetahui bahwa semua orang menuduhnya yang bukan-bukan dan tidak mempercayainya.

 

Jibril pun menghibur Maryam, “Jangan merasa takut. Allah telah menciptakan untukmu sebuah sungai agar engkau bisa minum dari airnya. Jika engkau menggerakkan pohon kurma di dekatmu, maka kurma yang masak akan berjatuhan kepadamu.

 

Ketika Maryam telah melahirkan, ia bawa anaknya kepada kaumnya. Ketika mereka menyaksikannya sedang membawa anak, spontan mereka mengusirnya dan berkata, “Perbuatan mungkar dan keji.”. sangat sulit keadaannya dan tidak bisa menjawab apa-apa.

 

Ia pun berbuat sebagaimana difirmankan Allah,

“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. ” (Qs. Maryam [19]: 29)

 

“Bagaimana engkau menghalangi kami dengan meminta jawaban dari seorang bayi? Tiada lain ini adalah hinaan bagi kami.” Ketika itulah Isa berbicara sebagaimana difirmankan Allah,

“Berkata Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah. ” (Qs. Maryam [19]: 30)

kisah-nabi-isa-as

“Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (Qs. Maryam [19]: 30)

Allah tidak mungkin memberikan kenabian kepada orang yang sebagaimana mereka tuduhkan.

 

Isa menjadi sangat terkenal karena ia berbicara ketika masih dalam buaian. “Sesungguhnya para utusan Raja Syam akan datang untuk membunuh anakmu.” Maryam pun membawanya pergi ke Mesir dan tinggal di sana hingga Isa berumur 12 tahun. Pada diri Isa terlihat berbagai macam karamah dan mukjizat.

 

Bersama ibunya, Isa kembali ke Baitul Maqdis dan diturunkan kepadanya Injil. Ia mampu menyembuhkan orang sakit dengan izin Allah dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah pula.

 

Nabi SAW bersabda, ” Turunlah meja makan dari langit. Di atasnya terdapat roti dan daging. Mereka diperintahkan untuk tidak khianat, tidak menyembunyikan, dan tidak mengambil untuk besok. Akan tetapi mereka berkhianat, menyembunyikan, dan mengambil untuk besok, maka mereka ubah menjadi kera dan babi.”10

 

Bani Israil menipu Isa. Mereka mengatakan akan menjadikan Isa salah seorang raja pada saat itu, namun sebenarnya mereka hendak membunuh dan menyalibnya. Allah lalu menyelamatkannya dari tipu-daya mereka dan mengangkatnya menuju kepada-Nya dari tengah-tengah mereka. Allah menjadikan salah seorang bani Israil serupa dengan Isa. Mereka menangkap, menyalib, dan membunuhnya. Mereka berkeyakinan bahwa yang mereka bunuh adalah Isa ‘Alaihissalam.

 

 

 

Kisah Nabi Muhammad SAW

 

 

 

 

Hafidz Yusuf

 

* buku rujukan: Mukhtashar Al Bidayah wa An-Nihayah DR. Ahmad Al khani

*pic: pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: