Mengerjakan PR Sekaligus Menyenangkan Cuma 45 Menit

gambar saat anak-anak sulitnya mengerjakan PR

mengerjakan pr

Untuk anak-anak mengerjakan PR adalah barang yang wajib, sekaligus keseharian dalam pembelajaran. Dapat dilihat beban dan di sisi lain adalah mewujudkan disiplin dan rasa tanggung jawab. Maka tak jarang melihat anak-anak terlihat senang dikala dapat mengerjakan dan murung cenderung malas ketika PR tersebut terasa sulit.

PR adalah pekerjaan rumah, dimana tugas yang tentunya dikerjakan di rumah masing-masing. Maka awal adalah rumah yang kodusif adalah tempat si anak mengerjakan PR. Sebenarnya  tugas anak tak lah begitu sulit, yang sulit adalah menghadirkan fokus untuk menyelesaikannya.

Mari kita buka pemikiran awal kita, untuk apa mengerjakan PR? Kenapa mengerjakan PR? Bagaimana menyelesaikannya? Kenapa banyak jawaban salah? Dan lain-lain. Tentu si anak tak lah berfikir sampai sejauh itu. Di benak dan di usianya (SD misalkan) memang adalah saat bermain, so bermain seperti batang pohon dan barulah cabangnya hal-hal lainnya.

The point is, bermain adalah fase bagaimana anak berkembang, maka mengerjakan PR adalah sarana memunculkan tanggung jawab bukan sebagai acuan. Anak-anak biasanya suka 3 hal, pertama adalah bermain, kedua banyak teman dan terakhir jajan. Menggabungkan tiga unsur tersebut sangat efektif mengajak mengerjakan PR mereka.

Saya pribadi melakukan 3 hal diatas untuk membantu anak-anak jama’ah masjid mengerjakan PR mereka. Alhamdulillah mereka senang dengan bermain dan terselesaikannya  tugas. Tak lah butuh waktu lama mengerjakannya, waktu yang pas adalah ba’da sholat magrib sampai isya’, maka kurang lebih 45 menit.

Banyak faedah didapat dalam sekali jalan. Di awali sholat berjama’ah anak-anak berkumpul, bertemu teman-temannya. Keaadaan yang suci dengan wudhu-wudhu, nuansa damai (tidak bising, no TV, no gadget) di masjid. Kebersamaan dan ketenangan menjadi poin awal.

Setelah sholat magrib, mulailah buku-buku dibuka dan alat tulis disiapkan. Biasanya PR ada satu atau dua pelajaran di hari yang sama dengan 10 nomer soal masing-masing . dengan dibantu orang dewasa PR mereka tak lah sulit dan lama untuk dikerjakan. Lebih efektif ketika soal diselesaikan dari yang termudah dan soal sulit dilewati.

Soal-soal yang sulit kita bantu kerjakan (terlihat sulit di mata mereka) dengan dibimbing cara dan jawabanya. Dengan berkumpulnya anak-anak tentu lintas kelas jadi satu. Si besar (kelas 5 & 6) membantu si kecil (kelas 1-3), bagi merekapun soal kelas 1 sangatlah mudah bagi si kelas 6, begitupun kita melihat mereka.

Jadi mengerjakan PR seperti lingkaran yang menguntungkan dan menyenangkan. Bermain sangat sering dilakkan dengan teman bermainnya (saat mengerjakan PR) maka kontrol seorang yang mendampingi perlu untuk mengkondisikan. Mereka berkumpul, bermain, dan tugas-tugas terselesaikan, menguntungkan bukan? He he.

Selama jeda daari sholat Magrib ke isya’ (-+ 45 menit)  begitu banyak hal yang diperoleh dengan nilai sosial interaksi bermain yang berakhirnya tugas sekolah mereka. Tugas mereka bukan hanya tugas mereka saja (anak-anak), melainkan tugas mereka adalah sarana bersambungnya generasi ke generasi berikutnya. Jika dari generasi apatis maka akan menghasilkan generasi autis.

Selamat mencoba, semoga bermanfa’at 😊

 

Hafidz Yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: